Jumat, 08 November 2013

Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013


SUDAH PADU: Bintang anyar CLS Knights Surabaya Mario Wuysang (dua dari kanan) saat berlatih bersama rekan-rekannya di GOR CLS ( 31/10). (Sugeng Deas/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 08/11/2013
Main Cepat Jadi Keunggulan
CLS Hadapi Jadwal Neraka di Malang
CLS Knights Surabaya menghadapi jadwal neraka pada seri pembuka Speedy NBL Indonesia 2013-2013 di Malang 16-24 November mendatang. CLS dituntut untuk segera menemukan formula terbaik agar bisa menyapu bersih semua kemenangan.

Berlaga di GOR Bimasakti Malang, CLS akan menjalani enam pertandingan. Yakni, melawan tiga tim papan atas; Garuda Kukar Bandung, Pelita Jaya Energi-MP Jakarta, dan Satria Muda Britama Jakarta.

Tim asuhan Kim Dong-won itu juga akan menghadapi tiga tim kuda hitam Stadium Jakarta, Hangtuah Sumsel IM, dan Satya Wacana Metro LBC Bandung. "Memang berat. Namun, kalau kami percaya diri, nggak ada yang nggak mungkin. Kami bisa saja mengalahkan tim-tim itu," tekad kapten CLS Dwi Haryoko.

Kemarin (7/11) CLS beruji coba melawan tetangganya, Pacific Caesar Surabaya. CLS menang relatif mudah dengan margin cukup lebar, 27 poin (85-58).

Pola yang diterapkan Mr Kim sama dengan saat menjadi runner-up preseason tournament September lalu. Basis dasarnya tetap, yakni memakai dua pengatur serangan alias double point guard.

Nah, kesulitan muncul karena pelatih asal Korea Selatan tersebut masih belum menemukan formula yang paten. Sepekan sebelum bergulirnya Seri I, Mr Kim masih galau apakah memasangkan point guard utama Dimaz Muharri dengan bintang baru Mario Wuysang ataukah dengan rookie Arif Hidayat.

Roe -panggilan Mario Wuysang- adalah pemain baru yang harus beradaptasi dengan pola permainan CLS. Wuysang harus meraba pattern CLS, terutama dalam defense. Mengharapkan Wuysang untuk cepat tune-in tentu saja sulit.

Di sisi lain, Arif memang paham pola CLS. Namun, sebagai rookie, pengalaman dan mentalitas point guard kelahiran Jember itu masih kalah dengan Wuysang.

"Kami memang masih tetap memakai double point guard. Dengan Mario harapannya memang dia bisa membantu (saya)," ucap Dimaz. "Mario adalah pemain profesional dan menjaga baik kondisinya. Dia juga mencoba masuk (adaptasi) dan bertanya soal pola," imbuh top assist dan top steal di preseason lalu tersebut.

Dimaz menegaskan, CLS harus bermain lebih cepat untuk bisa membekap lawan-lawannya. Sebab, kecepatan adalah keunggulan komparatif CLS bila dibandingkan dengan tim lain di NBL Indonesia. Bisa dikatakan CLS adalah tim tercepat di negeri ini.

Playmaker kelahiran Binjai, Sumatera Utara, itu menambahkan, tryout di Korea Selatan September lalu memang membuat matanya terbuka. Bahwa kecepatan bisa membuat tim sangat berbahaya. "Namun, di Korea akurasi tembakannya bagus. Kalau sudah dapat (posisi), kayaknya 90 persen masuk," ucap Dimaz.

CLS memang harus memanfaatkan kecepatan untuk menang. Memiliki salah satu barisan backcourt terbaik di Indonesia, CLS akan kesulitan jika bermain lambat melawan tim tangguh di paint area macam Pelita Jaya dan Satria Muda.

Hari ini, CLS akan melaksanakan pertandingan uji coba melawan Bimasakti Nikko Steel Malang di GOR Bimasakti. Uji coba tersebut menjadi comeback small forward Bimasakti Bima Rizky Ardiansyah setelah dicoret dari timnas basket putra untuk SEA Games 2013.

Dalam Angka

13
Dimaz Muharri adalah pemegang rekor assist terbanyak dalam satu pertandingan, yakni 13. Jumlah itu sama dengan yang pernah dibukukan Wendha Wijaya (Garuda Kukar Bandung).

504
Hingga kini, Dimaz merupakan satu-satunya pemain di Speedy NBL Indonesia yang berhasil menembus 500 lebih assist (504).

1.024
Rachmad Febri Utomo menjadi satu-satunya pemain CLS yang mencetak lebih dari 1.000 poin di NBL Indonesia (1.024 poin). (nur/c4/ham)
Story Provided by Jawa Pos

0 komentar:

Posting Komentar

 

HWD☮ Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos