Jumat, 08 November 2013

SINOPSIS Novel TEARS IN HEAVEN

Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar
tears-in-heaven coverAda rasa kurang nyaman ketika Nathan harus berhadapan dengan keluarga baru sang ayah. Perceraian kedua orangtua yang belum bisa Nathan terima, membuatnya sulit untuk menerima kebahagiaan sang ayah dengan keluarga barunya. Namun, semua itu teralihkan dengan kehadiran Kayla, gadis berdarah Jepang yang Nathan temui di sekolah.
Kehadiran Kayla bagaikan malaikat yang membawa kebahagiaan dan ketenangan tersendiri bagi Nathan. Perlahan tapi pasti, Kayla tidak hanya mampu mengubah perasaan Nathan terhadap keluarga barunya. Tetapi juga, mengubah perasaan Nathan sendiri terhadap gadis itu.
Di tengah rasa sakitnya akibat kemoterapi yang Nathan jalani, ia merasakan cinta yang sayang yang begitu menghangatkan terhadap Kayla. Sayangnya, secara tiba-tiba Kayla menghilang dari keseharian Nathan. Entah apa yang terjadi, Kayla seolah pergi tanpa meninggalkan jejak apa pun.
*****
Tears In Heaven merupakan sebuah novel karya Angelia Caroline yang begitu menyentuh perasaan. Melalui novel terbitan GagasMedia ini, kamu akan diajak mengikuti kisah penderita kanker dengan segala perjuangannya dalam mempertahankan hidup. Di dalamnya terdapat juga kisah tentang konflik keluarga, perang batin antara anak dan ayah, serta cinta yang begitu tulus untuk menerima serta memaafkan segala masa lalu yang kurang mengenakkan. Menarik dan mengharukan untuk dibaca!
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


SUDAH PADU: Bintang anyar CLS Knights Surabaya Mario Wuysang (dua dari kanan) saat berlatih bersama rekan-rekannya di GOR CLS ( 31/10). (Sugeng Deas/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 08/11/2013
Main Cepat Jadi Keunggulan
CLS Hadapi Jadwal Neraka di Malang
CLS Knights Surabaya menghadapi jadwal neraka pada seri pembuka Speedy NBL Indonesia 2013-2013 di Malang 16-24 November mendatang. CLS dituntut untuk segera menemukan formula terbaik agar bisa menyapu bersih semua kemenangan.

Berlaga di GOR Bimasakti Malang, CLS akan menjalani enam pertandingan. Yakni, melawan tiga tim papan atas; Garuda Kukar Bandung, Pelita Jaya Energi-MP Jakarta, dan Satria Muda Britama Jakarta.

Tim asuhan Kim Dong-won itu juga akan menghadapi tiga tim kuda hitam Stadium Jakarta, Hangtuah Sumsel IM, dan Satya Wacana Metro LBC Bandung. "Memang berat. Namun, kalau kami percaya diri, nggak ada yang nggak mungkin. Kami bisa saja mengalahkan tim-tim itu," tekad kapten CLS Dwi Haryoko.

Kemarin (7/11) CLS beruji coba melawan tetangganya, Pacific Caesar Surabaya. CLS menang relatif mudah dengan margin cukup lebar, 27 poin (85-58).

Pola yang diterapkan Mr Kim sama dengan saat menjadi runner-up preseason tournament September lalu. Basis dasarnya tetap, yakni memakai dua pengatur serangan alias double point guard.

Nah, kesulitan muncul karena pelatih asal Korea Selatan tersebut masih belum menemukan formula yang paten. Sepekan sebelum bergulirnya Seri I, Mr Kim masih galau apakah memasangkan point guard utama Dimaz Muharri dengan bintang baru Mario Wuysang ataukah dengan rookie Arif Hidayat.

Roe -panggilan Mario Wuysang- adalah pemain baru yang harus beradaptasi dengan pola permainan CLS. Wuysang harus meraba pattern CLS, terutama dalam defense. Mengharapkan Wuysang untuk cepat tune-in tentu saja sulit.

Di sisi lain, Arif memang paham pola CLS. Namun, sebagai rookie, pengalaman dan mentalitas point guard kelahiran Jember itu masih kalah dengan Wuysang.

"Kami memang masih tetap memakai double point guard. Dengan Mario harapannya memang dia bisa membantu (saya)," ucap Dimaz. "Mario adalah pemain profesional dan menjaga baik kondisinya. Dia juga mencoba masuk (adaptasi) dan bertanya soal pola," imbuh top assist dan top steal di preseason lalu tersebut.

Dimaz menegaskan, CLS harus bermain lebih cepat untuk bisa membekap lawan-lawannya. Sebab, kecepatan adalah keunggulan komparatif CLS bila dibandingkan dengan tim lain di NBL Indonesia. Bisa dikatakan CLS adalah tim tercepat di negeri ini.

Playmaker kelahiran Binjai, Sumatera Utara, itu menambahkan, tryout di Korea Selatan September lalu memang membuat matanya terbuka. Bahwa kecepatan bisa membuat tim sangat berbahaya. "Namun, di Korea akurasi tembakannya bagus. Kalau sudah dapat (posisi), kayaknya 90 persen masuk," ucap Dimaz.

CLS memang harus memanfaatkan kecepatan untuk menang. Memiliki salah satu barisan backcourt terbaik di Indonesia, CLS akan kesulitan jika bermain lambat melawan tim tangguh di paint area macam Pelita Jaya dan Satria Muda.

Hari ini, CLS akan melaksanakan pertandingan uji coba melawan Bimasakti Nikko Steel Malang di GOR Bimasakti. Uji coba tersebut menjadi comeback small forward Bimasakti Bima Rizky Ardiansyah setelah dicoret dari timnas basket putra untuk SEA Games 2013.

Dalam Angka

13
Dimaz Muharri adalah pemegang rekor assist terbanyak dalam satu pertandingan, yakni 13. Jumlah itu sama dengan yang pernah dibukukan Wendha Wijaya (Garuda Kukar Bandung).

504
Hingga kini, Dimaz merupakan satu-satunya pemain di Speedy NBL Indonesia yang berhasil menembus 500 lebih assist (504).

1.024
Rachmad Febri Utomo menjadi satu-satunya pemain CLS yang mencetak lebih dari 1.000 poin di NBL Indonesia (1.024 poin). (nur/c4/ham)
Story Provided by Jawa Pos
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


HEBOH: Suasana penonton penuh sesak di Blue Gymnasium South Tahoe High School. (Foto: Hendra Eka/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 08/11/2013
Tribun Penuh Sesak, Indonesia Raya Berkumandang
Untuk Kali Pertama, DBL Indonesia All-Star Kunjungi California (3)
Hari Rabu (6/11, Kamis kemarin WIB) merupakan hari super happy bagi anak-anak DBL Indonesia All-Star 2013. Setelah asyik main salju di South Lake Tahoe, mereka merasakan suasana kelas dan pertandingan di salah satu SMA terbaik di Amerika Serikat!

---

Laporan : Rosyidan Mainbasket Hendra Eka, dari South Lake Tahoe

SELAIN menonton pertandingan NBA dan bertanding di luar negeri, mungkin satu hal yang paling didambakan anak-anak Developmental Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2013 selama di Amerika adalah bermain salju.

Rabu (6/11, Kamis kemarin WIB), harapan itu menjadi kenyataan Plus, mereka dapat pengalaman luar biasa di South Tahoe High School (STHS), yang oleh majalah Newsweek dinobatkan sebagai salah satu SMA terbaik di Amerika Serikat.

Di sekolah itu, mereka merasakan serunya ikut pelajaran di sekolah Amerika. Kemudian, mereka merasakan senang - dan bangganya - meraih kemenangan dalam pertandingan melawan tim basket sekolah tersebut!

Berangkat pagi-pagi (naik bus pukul 06.30), rombongan DBL All-Star menempuh perjalanan selama sekitar 2,5 jam menuju South Lake Tahoe. Kota tujuan itu adalah kota kecil di dekat Lake (danau) Tahoe, salah satu tempat terindah di Amerika Serikat.

Sebuah danau superluas dan superdalam yang terletak di atas pegunungan, di perbatasan antara Negara Bagian California dan Nevada.

Sebelum menuju Amerika, tim ofisial dari PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia sudah mengantisipasi cuaca terburuk saat di Lake Tahoe ini. Anak-anak dibekali jaket tebal, kaus tangan, dan tutup kepala.

Karena sudah memasuki musim dingin, bukan tidak mungkin suhu berada di kisaran 0 derajat Celsius.

Untungnya, hari itu cuaca sedang indah-indahnya. Langit begitu cerah, matahari bersinar begitu terang. Walau dingin, di kisaran 10 derajat Celsius, sinar matahari membuat badan terasa lebih hangat.

Dan beruntung lagi, walau ''hangat'', masih ada salju yang bertebaran di beberapa bagian. Bukan salju tebal, tapi tetap saja salju. Bisa dipegang-pegang (seperti serutan es), dan dilempar-lempar!

Khawatir tidak ada banyak salju di atas, bus yang membawa DBL All-Star langsung berhenti begitu ada tempat yang ''dibumbui'' salju. Masih sekitar 10 kilometer dari South Lake Tahoe, anak-anak (dan tim pelatih plus ofisial) pun berfoto-foto dengan salju.

Begitu melanjutkan perjalanan ke atas, bus langsung menuju puncak, ke Emerald Bay. Salah satu puncak bukit/gunung dengan pemandangan Lake Tahoe terindah.

Lagi-lagi beruntung, jalan itu masih dibuka untuk umum. Kalau cuaca sudah memburuk, jalan ke arah Emerald Bay langsung ditutup karena terlalu berbahaya. Bisa dibayangkan betapa bahayanya jalan tersebut ketika salju turun lebat-lebatnya. Jalanan menanjak/menurun curam sangat licin, dengan jurang di kedua sisi, kanan dan kiri!

Selesai foto-foto di Emerald Bay, rombongan langsung menuju tempat yang banyak saljunya. Di sana, mereka pun langsung ''pesta salju''. Setelah foto-foto, langsung main perang bola salju.

Pertama-tama saling lempar. Kemudian, tim pelatih jadi korban serangan. Setelah itu, tim ofisial dari DBL Indonesia diserbu. Termasuk sang commissioner Azrul Ananda.

Puji Agus Santoso, manager basketball operations PT DBL Indonesia, yang memilih berdiam menghangatkan badan di dalam bus ikut dipancing keluar, lalu diserbu dengan lemparan bola salju!

''Seru sekali. Walau terlihat kampungan dan seperti anak-anak, kami tidak peduli! Sebab, bagi kami, memang baru sekali ini melihat salju,'' ungkap Liem Indra Wijaya dari SMA Theresiana 1 Semarang.

''Di sini kan banyak musim. Jadi, pas ketemu salju, rasanya senang banget. Pengalaman tak terlupakan,'' ucap Nazhiira Nadia Iskandar, siswa SMAN 3 Jakarta.

---

Puas main salju hampir sejam, pukul 11.00 rombongan menuju South Tahoe High School (STHS), yang akan menjamu siang sampai sore itu. Di sana, para pemain dijadwalkan makan siang bareng siswa lain di kafetaria sekolah, lalu ikut masuk kelas, dan kemudian bertanding melawan tim basket sekolah tersebut.

''Sekolah ini sangat antusias menantikan kehadiran DBL All-Star. Mereka yang punya ide melakukan program komplet. Mereka bahkan berencana mengerahkan seluruh siswa untuk menonton pertandingan,'' kata Scott Freshour, manager entertainment Sacramento Kings, yang membantu merancang program DBL All-Star selama di California.

Rombongan juga punya ekspektasi lumayan tinggi terhadap sekolah itu. Ketika dipelajari, ternyata sekolah tersebut sangat ngetop di Amerika. Majalah Newsweek menobatkannya sebagai salah satu yang terbaik di Amerika!

Ketika berkunjung ke sana, semua pun tahu mengapa gelar itu layak diberikan...

Begitu tiba, rombongan disambut tulisan di layar LED di depan sekolah, bertulisan ''Welcome Indonesian High School Basketball All-Star''.

Wakil Kepala Sekolah STHS Patrick Harnett menyambut rombongan, ditemani Joby Cefalu, pelatih tim basket putra sekolah tersebut.

Datang agak dini, rombongan digiring ke Student Union, tempat makan siang. Di sana, rombongan pemain basket STHS ikut bergabung. Unik, mereka berdandan sangat rapi. Yang putra, misalnya, memakai kemeja dan dasi. Kata mereka, itu memang aturan tim basket. Kalau hari itu bertanding, mereka harus mengenakan busana rapi.

Tidak lama kemudian, Cefalu memasangkan satu pemain DBL All-Star dengan satu pemain STHS. Mereka lantas makan siang bareng. Setelah makan siang, para pemain DBL All-Star harus mengikuti ke mana pun pasangannya pergi. Ikut ke kelas mana pun yang diikuti sang pasangan.

Tentu saja, itu memberikan pengalaman yang sangat beragam.

''Tadi saya masuk kelas ekonomi. Masih bisa mengerti sih pelajarannya. Anak-anaknya juga welcome. Mereka ramah, ngajak ngobrol. Tidak membiarkan kami kebingungan,'' tutur Calista Elvira dari SMA St Aloysius Sultan Agung, Bandung.

Ini merupakan tahun kedua Calista merasakan pengalaman seperti itu. Tahun lalu dia juga terpilih masuk DBL All-Star 2012, yang belajar dan bertanding di Seattle, Negara Bagian Washington.

Walau berstatus pelajar tamu, para guru tidak segan-segan memberikan tugas bagi anak-anak DBL All-Star. ''Saya masuk kelas English. Pas banget tadi kelompok saya diminta maju presentasi di depan. Tapi, mereka pengertian. Ngerti kalau saya tidak terlalu bisa bahasa Inggris. Jadi, kalau bicara ke saya, ngomongnya diulang-ulang,'' cerita Nadya Valdiyen Gumanti, siswa SMAN 3 Jakarta.

Ketika para pemain ikut kelas, para pelatih dan ofisial diberi tur sekolah oleh Patrick Harnett dan Joby Cefalu. Mereka ditunjukkan pada fasilitas-fasilitas mewah dan hebat, yang membuat STHS terpilih sebagai salah satu sekolah terbaik di Amerika.

Misalnya, di belakang gym, ada ruangan besar untuk kelas sports medicine (pengobatan dan perawatan olahraga). Termasuk, kolam renang arus tinggi untuk terapi, dilengkapi ''ruang intip'' untuk mengamati gerakan kaki selama di dalam air.

Lalu, ada berbagai perlengkapan canggih lain. Termasuk, beberapa sepeda statis simulator Tour de France. Orang bisa mengendarainya sambil menonton tayangan di layar LCD, lalu mengayuh seperti mengikuti etape-etape berat lomba tersebut.

Bagian administrasi pun lengkap. ''Supaya anak-anak kami tidak hanya belajar bagaimana merawat cedera, tapi juga bisa belajar soal administrasi pasien dan pendataannya,'' jelas Harnett.

Saking lengkapnya, lulus dari SMA itu, anak-anak STHS hanya perlu ambil kelas formalitas untuk dapat sertifikasi fisioterapi profesional! ''Di sini mereka belajar lebih lengkap daripada orang yang kuliah di universitas selama dua tahun di tempat lain!'' klaim Harnett.

Kelas art, digital photography, dan lain-lain juga dilengkapi alat tercanggih. Auditorium teaternya dilengkapi bengkel khusus untuk pembuatan properti panggung.

Ruang film (sebuah bioskop mini digital) juga dilengkapi studio rekaman serta kebutuhan pembuatan film modern lain.

Untuk kelas otomotif, STHS bahkan dilengkapi bengkel mewah yang tidak kalah oleh diler-diler otomotif besar!

''Hebat banget, ada SMA yang punya fasilitas secanggih ini,'' kata Rivaldo Tandra Pengesthio, siswa SMA St Petrus Pontianak, yang juga dapat kesempatan tur bersama teman barunya.

Yang lebih bikin tim pelatih DBL All-Star geleng-geleng kepala: Segala fasilitas itu gratis. Dan sekolah di STHS, seperti di kebanyakan sekolah lain di Amerika, adalah gratis, tidak dikenai biaya.

Sebagai satu-satunya SMA di South Lake Tahoe, Harnett menjelaskan, ada sekitar 1.100 siswa yang bersekolah di sana tahun ini.

---

Sekitar pukul 01.45, seluruh penghuni STHS diminta menghentikan pelajaran dan berkumpul di gym sekolah. Mereka pun langsung memadati dua sisi tribun gedung pertandingan basket.

Joby Cefalu menerangkan, di depan seluruh warga sekolah, tim putra dan putri masing-masing akan scrimmage (pertandingan pemanasan) sepuluh menit. Setelah itu, seluruh siswa diminta kembali ke kelas masing-masing, dan pertandingan resmi diselenggarakan.

Sebelum bertanding, lagu kebangsaan Indonesia Raya diputar, disambut tepuk tangan riuh seluruh penonton, disusul dengan Star Spangled Banner, lagu kebangsaan Amerika Serikat.

''Melihat gym penuh sesak dan lagu Indonesia Raya diputar, saya merasa merinding. Rasanya aneh melihat sambutan dan suasana seperti ini di Amerika,'' ungkap Azrul Ananda, commissioner DBL.

Dalam laga ekshibisi tersebut, tim putri DBL All-Star menang 9-2 dan tim putra kalah 10-14.

Namun, begitu pertandingan resmi dimulai (mengikuti aturan setempat, masing-masing 2 x 20 menit), tim DBL All-Star menunjukkan kemampuan dan dominasi. Tim putri menang telak 55-20, tim putra menang 42-29.

Setelah pertandingan, kedua pihak merasa bahwa atmosfer dan pengalaman ''pertukaran'' jauh lebih penting daripada pertandingannya.

''Di satu sisi, senang rasanya bisa menang di Lake Tahoe, menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia itu hebat. Di sisi lain, rasanya pengalaman mereka masuk kelas, bertemu teman-teman baru, jauh lebih berharga. Sekarang ada satu kota yang kenal lebih akrab dengan Indonesia dan anak-anaknya yang hebat,'' papar Azrul.

''Ini merupakan sebuah pengalaman kebudayaan yang luar biasa. Kami sangat tersanjung dapat kunjungan dari anak-anak Indonesia. Pelajar kami jadi dapat kesempatan bertemu langsung dengan teman-teman dari sisi lain bumi ini. Ini luar biasa, dan ini baru pertama terjadi di sekolah kami,'' ungkap Ivone Larson, kepala sekolah STHS.

Para pelajar STHS pun berharap kunjungan tersebut bakal berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya. ''Kalian harus kembali lagi tahun depan!'' ujar Raylly Chapman, siswi STHS.

Asal tahu saja, anak-anak DBL All-Star kini punya fans di South Lake Tahoe. Di sela-sela pertandingan, sejumlah pelajar putri STHS sempat minta foto-foto dengan para pemain putra DBL All-Star! (bersambung)
Story Provided by Jawa Pos
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


ADU FISIK: Guard tim putra DBL All-Star Rioga Deswara (kiri) dijaga ketat Chase Watermon dari South Tahoe High School pada Rabu (6/11, Kamis 7/11 WIB). (Foto: Hendra Eka/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 08/11/2013
Menang Besar di South Lake Tahoe
DBL All-Star Berjaya di Hawa Dingin dan Ketinggian 2.000 DPL
SOUTH LAKE TAHOE - Luar biasa performa tim Developmental Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2013 di South Lake Tahoe, California, Amerika Serikat, Rabu (4/11, Kamis kemarin WIB).

Dalam pertandingan melawan tim basket South Tahoe High School (STHS), tim putri DBL All-Star menang telak 55-20, kemudian tim putra menang 42-29.

Tim bertanding di gym STHS (Blue Gymnasium), mengikuti aturan pertandingan setempat. Yaitu, 2 x 20 menit, tanpa shot clock, plus variasi aturan-aturan lain yang beda dengan aturan yang biasa diikuti di Indonesia (FIBA Rules).

Tim juga bertanding di tempat yang dingin (suhu di luar 5-10 derajat Celcius, tapi di dalam ada penghangat), plus di ketinggian yang lumayan menantang. Yaitu, sekitar 2.000 DPL, membuat oksigen lebih tipis. Maklum, South Lake Tahoe berada di pegunungan yang membatasi Negara Bagian California dan Nevada.

Belum lagi dukungan penonton yang begitu meriah untuk The Vikings, julukan tim basket STHS.

Itu semua tidak membuat anak-anak DBL All-Star nervous. Sejak awal, mereka langsung tancap gas. Tim putri menutup babak pertama dengan keunggulan 24-9. Forward asal SMAN 1 Denpasar, Kadek Rima Anggen Suari, menyumbangkan lima angka.

Keunggulan pada babak pertama membuat para pemain DBL All-Star Putri semakin percaya diri. Pertahanan yang amat rapat mengunci The Vikings yang semakin kesulitan mengembangkan permainan.

''Kami seharusnya bisa memberikan penampilan yang jauh lebih baik daripada pertandingan tadi,'' ungkap center Calista Elvira, SMA St Aloysius Sultan Agung Bandung, yang menyumbangkan delapan poin. ''Tapi, mungkin kami terhadang faktor lokasi dan cuaca. Mau lari, kami malah susah bernapas.''

Hal senada diungkapkan Nadya Valdiyen Gumanti dari SMAN 3 Jakarta. ''Kami memang seharusnya bisa lebih baik. Tetapi, kami tadi seperti harus menghadapi lawan yang lain, yaitu cuaca yang sangat dingin,'' ungkap pemain yang berposisi guard tersebut.

Sementara itu, walau juga menang dengan selisih jauh, tim putra DBL All-Star sempat melewati masa-masa menegangkan. Konsistensi yang tidak terjaga dengan baik membuat keunggulan pada awal babak pertama mampu dikejar The Vikings Putra menjelang berakhirnya babak pertama.

Dari sempat melejit 18-2, DBL All-Star sempat deg-degan ketika The Vikings mendekat dan skor hanya 19-18 untuk Indonesia.

Pada babak pertama, point guard DBL All-Star, Rioga Deswara (SMA Cendana Pekanbaru), benar-benar menjadi momok bagi The Vikings. Rioga mengobrak-abrik pertahanan lawan, membuka peluang dan mencetak delapan angka.

''Saya tidak melihat konsistensi dalam pertandingan tadi. Saya tidak mau kejadian di Solo terulang (kalah oleh Gold Coast Australia, Red). Margin keunggulan sudah cukup untuk membawa kemenangan, tetapi malah terkejar,'' ungkap Ateng Sugijanto, kepala pelatih tim putra, yang kesal dengan performa timnya pada babak pertama.

''Mereka kendur. Saat mendapat tekanan, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan, ketika saya beri instruksi di time out, mereka tetap mengulangi kesalahan,'' tambah Coach Ateng.

Pada bagian akhir babak kedua, DBL All-Star kembali garang, sebelum menutup pertandingan dengan skor 42-29.

''Saya ingin memuji penampilan beberapa pemain seperti Rioga (Deswara) yang bermain bagus mulai awal sampai akhir. Lalu, ada Adhit (Adhitya Kusuma Aghystha S., SMAN 116 Jakarta) dan Rivaldo (Tandra Pangesthio, SMA St Petrus Pontianak) yang menjadi tembok kukuh di pertandingan tadi,'' lanjut Coach Ateng.

''Juga kepada Shamgar (Galed Laransedu, SMA Trinitas Bandung). Ketika tadi kita mulai terkejar, Shamgar berhasil memasukkan three point dua kali dan membuat kita naik lagi. William (Ruddyanto, SMAN 9 Bandung) yang biasanya bermain sebagai cadangan juga mampu menunjukkan tanggung jawabnya ketika saya tunjuk sebagai starter,'' ujar Coach Ateng yang ingin pemainnya lebih fokus menghadapi pertandingan selanjutnya.

Sukses di South Lake Tahoe, tim DBL All-Star 2013 akan bertanding lagi Jumat (8/11), melawan Natomas Basketball Club Sacramento.

Lokasinya sangat bersejarah, yaitu di Sleep Train Arena, kandang tim NBA Sacramento Kings. Mereka akan menjadi tim pertama dalam sejarah Indonesia yang bertanding di arena NBA! (*)
Story Provided by Jawa Pos
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


Pemain tim putra DBL All Star 2013 Rioga Deswara melihat-lihat dari dekat bangunan jembatan Golden Gate, San Francisco, Amerika Serikat. (Foto: Hendra Eka/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 07/11/2013
Anak Buruh Itu Bisa Meraih Mimpi ke USA
Kisah perjalanan 'wong cilik' ini mirip dongeng Cinderella
NAMANYA Rioga Deswara. Ia biasa dipanggil dengan Yoga. Dengan tinggi hanya 165 cm, ia sempat mengejutkan di camp bola basket SMA terbesar se-Indonesia, DBL Camp 2013, Juli lalu di Surabaya.
Banyak point guard yang berpostur lebih tinggi, namun lima pelatih asal Australia (Andre Vlahov, Shane Froling, CJ Jackson, Rob Beveridge, dan Mark Heron) lebih memilih Yoga masuk 14 kandidat All-Star. Yoga pun akhirnya masuk skuat inti dan sekarang menimba ilmu bola basket di Sacramento.
Tak banyak yang tahu kalau Yoga bekerja keras melawan segala keterbatasan. Dia anak bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Anton Sutardi dan Diarty.
Sang ayah, bekerja sebagai buruh di kota Kandis, 2 jam perjalanan dari Pekanbaru. Sedangkan ibu bekerja di sebuah penata event (EO).
"Saya sendiri tidak tahu oom, ayah bekerja sebagai buruh apa. Beliau ikut orang. Saya sangat jarang bertemu," ucap Yoga, saat saya kontak via BB messenger temannya di Sacramento, Rabu (6/11).
Menurut pelatih tim basket Popnas Riau, Aulia Iyot, Yoga termasuk beruntung mengarahkan liarnya kehidupan ke bola basket.
"Ibarat di jalanan, untunglah dia positif ke bola basket. Hidupnya dari satu lapangan ke lapangan lain," ucap Aulia.
Karena dibesarkan di jalanan, gaya bermain Yoga sangat berani. Ia mengatasi postur pendek dengan permainan cepat dan berani. "Saya harus bekerja keras agar bisa eksis dan tidak dianggap enteng di lapangan basket," kata pria kelahiran 9 Desember 1996 ini.
Garis tangan dan skill tinggi, membuat lima pelatih Australia memberinya kesempatan ke AS, 3-12 November ini. "Ini memang rezeki Yoga, sekalinya ke luar negeri langsung ke Amerika," ungkap pelajar SMA Cendana Pekanbaru, Riau.
Ingat Keluarga
Sebagai remaja, pergi ke AS seperti sebuah keajaiban. "Tuhan memang baik dan memberi saya kenikmatan ini. Ini bonus karena saya tidak terjun ke dunia hitam dan memilih kegiatan bola basket," ucap penggemar Jason Williams dan Jason Kidd ini.
Banyak yang ingin dibeli di AS, namun ia juga sadar diri. "Saya diberi bekal 163 dolar oleh mama. Saya ingin membelikan ayah dan mama baju. Mama saya tambahi sepatu," ucap pengagum Tony Parker (Spurs). Yoga tidak berbohong sebab kebetulan uang saku itu nitip ditransfer ke rekening anak saya.
"DBL juga memberi uang jajan 200 dolar, oom. Untuk saudara yang lain, saya belikan kaos dan sedikit kue Amerika. Biar mereka ikut merasakan," ucap Yoga.
Bagaimanakah dengan dirimu sendiri? "Yoga ingin beli sepatu basket untuk kenang-kenangan. Cari yang murah saja oom, Hyperdunk 2012, yang kebetulan sedang diobral. Yoga juga beli sepasang kaos kaki dan sepatu jalan. Cukup semuanya oom," tambah Yoga.
Mimpi Yoga untuk bermain di lapangan milik tim NBA juga akan kesampaian. DBL All-Star akan dijamu tim SMA setempat di Sleep Train Arena, kandang Sacramento Kings. Mereka pun bertanding melawan SMA di Lake Tahoe, sebelum bermain-main dengan salju di sana.
Mimpi mereka untuk bersekolah setinggi langit, terus ditanamkan dengan mengunjungi dua, Universitas Sacramento State dan UC Davis. Bonus terbesar di hari-hari terakhir adalah nonton gim NCAA dan NBA (Sacramento Kings vs Portland Trail Blazers).
"Saya seperti mimpi. Namun, ternyata semuanya nyata," ucap Yoga, menutup pembicaraan.
Saya jadi teringat kata-kata yang diucapkan Tom Hanks sebagai pemeran Forrest Gump, yang memberikan hadiah Oscar. "...hidup itu seperti sekotak coklat. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan kamu dapatkan. The world will never be the same.."
Semua jadi nyata berkat kerja keras, disiplin, dan mental baja. Proud of you, Yoga.
Story Provided by Eko Widodo - BOLA
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


BELAJAR: Mantan pemain Sacramento Kings Henry Turner memberikan arahan kepada Cakrawala Satria Ariawan dari SMAN 3 Jakarta. (Foto: Hendra Eka/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 07/11/2013
Dilatih Mantan Pemain NBA, Makan Nasi Kuning di Old Sacramento
Untuk Kali Pertama, DBL Indonesia All-Star Kunjungi California (2)
Hari pertama di Sacramento, DBL Indonesia All-Star punya jadwal full. Dapat materi latihan dari pelatih NBA, menengok sebuah sekolah dasar, plus mengunjungi "kota lama" di ibu kota California tersebut.

---

Laporan : Rosyidan Mainbasket Hendra Eka, dari Sacramento

SETELAH seharian jalan-jalan di San Francisco, Selasa lalu (5/11) rombongan Developmental Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2013 mendapatkan jadwal aktivitas full di Sacramento. Di ibu kota Negara Bagian California tersebut, para pemain dan pelatih SMA pilihan dari berbagai penjuru Indonesia itu mendapatkan beberapa pengalaman penting.

Pelajaran tentang basket, pemahaman tentang kondisi sekolah di Amerika, plus jalan-jalan di salah satu objek wisata utama di Sacramento.

Selasa pagi itu ada jadwal latihan penting bagi tim. Mereka akan mendapatkan pelajaran dari Henry Turner, seorang local legend, mantan pemain NBA dari klub Sacramento Kings.

Mengikuti "aturan tak tertulis" di Amerika, rombongan datang 30 menit lebih cepat dari jadwal di tempat latihan, di gym Destiny Christian Church. Di Negeri Paman Sam, kalau latihan dimulai pada pukul tertentu, itu maksudnya latihan benar-benar dimulai. Pemanasan sudah harus dilakukan sebelumnya (dipimpin tim pelatih DBL All-Star). Karena itulah, rombongan datang lebih cepat.

Benar saja, Henry Turner datang tepat waktu (pukul 10.00). Mengenakan training hitam, kaus hitam, serta topi berlogo Sacramento Kings, Henry langsung menyapa serta disambut antusias oleh para pemain dan pelatih DBL All-Star.

Tanpa banyak membuang waktu, Henry langsung memberikan materi fundamental basket. Pemain yang dulu juga pernah melanglang buana ke berbagai negara Eropa itu langsung cair dan berbaur dengan para pemain.

"Berlatih bersama Henry Turner sangat seru dan menyenangkan," ungkap Rioga Deswara, point guard yang berasal dari SMA Cendana Pekanbaru. "Awalnya saya sempat bingung dengan beberapa instruksi, tapi lama-lama bisa juga," tambahnya.

Materi-materi latihan yang diberikan Henry memang tidak begitu sulit. Dia hanya menekankan lagi penguasaan dan pendalaman teknik-teknik fundamental. Hal itu ditekankan lagi oleh Henry seusai sesi latihan. "Para pemain DBL All-Star harus menyadari pentingnya fundamental basket. Jika ingin berhasil, mereka harus terus konsisten melatih fundamental basket mereka," tutur pria 47 tahun tersebut.

Walau hanya memberikan materi fundamental basket, alur serta level materi yang diberikan Henry meningkat bertahap dan diterima dengan baik oleh para pemain. Awalnya ringan, lalu agak berat, berat, dan diakhiri dengan game free throw conga yang berlangsung penuh canda dan tawa. Henry yang ikut berpartisipasi dalam free throw conga mengakui kekalahannya ketika harus tersingkir saat hanya tersisa tiga pemain.

"Saya sangat menikmati waktu berlatih bersama para pemain DBL All-Star. Apalagi permainan di akhir latihan tadi, mereka berhasil mengalahkan saya," aku Henry. "Para pemain juga mampu menerima materi dengan cepat meskipun ada sedikit kesalahan-kesalahan yang harus dibenahi."

Walau fundamental, para pemain mengaku tetap mendapatkan sesuatu dari sesi tersebut.

"Materi yang diberikan Henry sebenarnya sudah pernah saya terima dari pelatih saya di Denpasar," ungkap Ida Ayu Nirmala Ratih Wijaya, pemain asal SMAN 1 Denpasar. "Tapi, cara penyampaian dia memang menyenangkan. Tadi saya sempat juga kesulitan mengikuti beberapa instruksinya. Untung Henry sabar menuntun saya."

Henry menutup latihan singkat bersama para pemain DBL All-Star dengan acara foto bersama. Sebelum melakukan foto bersama, Henry menerima kenang-kenangan berupa kemeja batik yang diserahkan kapten tim putra Rivaldo Tandra Pangesthio.

Selain para pemain DBL All-Star, para pelatih juga mengaku memetik pelajaran berharga dari latihan bersama Henry. Salah satunya asisten pelatih tim putra Jap Ricky Lesmana yang juga melatih SMA Bukit Sion Jakarta.

"Saya sangat mengagumi cara Henry memberikan materi kepada para pemain. Materi yang sebenarnya sudah kami ketahui bersama mampu dia buat menjadi menarik dan tidak terkesan terlalu dipaksakan kepada para pemain," puji Jap Ricky tentang cara Henry melatih. "Fun tapi serius. Saya rasa itu pelajaran paling berharga yang saya petik dari cara Henry melatih," lanjutnya.

Henry Turner yang sering memberikan basketball training kepada remaja-remaja di Sacramento akhirnya pamit dan memberikan semangat kepada para pemain DBL All-Star.

"Saya harap kalian selalu bermain dengan penuh semangat dan dapat memenangi pertandingan melawan pemain-pemain dari South Tahoe High School besok," ucap Henry sebelum berpamitan dengan para pemain DBL All-Star.

Rabu (6/11) DBL All-Star memang dijadwalkan menjalani pertandingan pertama selama di Amerika. Yaitu ketika me­ngunjungi SMA South Tahoe, di kawasan wisata yang sangat kondang, sekitar tiga jam naik mobil dari Sacramento.

---

Selepas latihan, para pemain DBL All-Star menyempatkan diri singgah ke Stone Gate Elementary School. Sebuah sekolah dasar yang terletak berdekatan dengan Destiny Christian Church, di kawasan barat Sacramento.

Kunjungan ke sekolah dasar itu didampingi Scott Freshour, entertainment manager dari tim NBA Sacramento Kings, yang ikut mengatur program kunjungan DBL All-Star selama di California. "Kenalkan semua, ini Yolanda Freshour, istri saya," ucap Scott kepada para pemain DBL All-Star. Yolanda yang tengah mengajar tampak tersipu malu.

Ya, istri Scott memang bekerja sebagai guru di sekolah tersebut.

Walau kunjungan itu terbilang singkat, para pemain DBL All-Star sempat menyanyikan lagu Happy Birthday untuk salah seorang siswa. "Kunjungan yang sangat singkat, namun sangat berkesan," ujar Yolanda ketika tim DBL All-Star berpamitan.

Setelah mengunjungi Stone Gate Elementary School, para pemain DBL All-Star yang perutnya mulai keroncongan menuju Old Sacramento. Old Sacramento adalah kota tua cikal bakal berdirinya kota modern sekaligus ibu kota Negara Bagian California tersebut. Selain menyaksikan keindahan bangunan-bangunan tuanya, kunjungan ke Old Sacramento memiliki tujuan lain, yaitu menikmati masakan khas Indonesia.

Indo Cafe adalah sebuah restoran kecil di salah satu sudut Old Sacramento. Restoran ini menjadi pengobat kerinduan para pemain DBL All-Star yang sudah sangat kangen dengan masakan Indonesia (walau baru beberapa hari di Amerika).

Unik memang, di tengah keindahan kota tua Sacramento, terselip sebuah restoran masakan Indonesia yang selama bertahun-tahun sudah eksis dan dikenal warga Sacramento.

"Selamat datang semuanya," sambut Tessa Scaief, pemilik Indo Cafe. Tessa saat itu ikut turun melayani para pemain DBL All-Star. Dia menyajikan menu nasi kuning dan nasi uduk spesial yang langsung disantap dan ludes oleh para pemain.

"Kami memang sangat menjaga cita rasa masakan di Indo Cafe. Cita rasa yang orisinal dan tidak instan membuat banyak pelanggan kembali lagi dan mulai jatuh cinta pada masakan Indonesia," imbuh Tessa yang lahir dan besar di Tegal, Jawa Tengah.

Dari Old Sac, perjalanan hari itu berakhir di Roseville Galleria, sebuah mal besar dan kompleks perbelanjaan yang sangat luas di Sacramento. Seperti biasa, sesi belanja-belanja selalu menjadi bagian yang paling membuat heboh para pemain DBL All-Star. "Saya akhirnya menemukan sepatu yang saya inginkan," ungkap Dara Tahirah Sudrajat, center asal SMAN 2 Bandung. "Kalau dompet ini oleh-oleh untuk mama," tambahnya.

Kembali ke hotel sekitar pukul 20.00, para pemain langsung diminta istirahat maksimal. Maklum, Rabu pagi-pagi (pukul 06.30) mereka sudah harus naik bus menuju South Lake Tahoe. Selain mengunjungi SMA dan bertanding dengan tim basket di sana, kalau cuaca mengizinkan, anak-anak DBL All-Star akan bisa menikmati serunya bermain salju! (bersambung)
Story Provided by Jawa Pos
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


TRANSFER ILMU: Henry Turner, mantan pemain Sacramento Kings, saat memberikan arahan kepada DBL Indonesia All-Star 2013 di Destiny Christian Church Gymnasium. (Foto: Hendra Eka/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 07/11/2013
Terlalu Sering Main PlayStation
Komentar Henry Turner tentang Gaya Main Anak Basket Sekarang
Penekanan terhadap aspek fundamental selalu menjadi poin terpenting dalam latihan-latihan Developmental Basketball League (DBL) Indonesia All-Star bersama para pemain maupun mantan pemain NBA.

Begitu pula yang dialami DBL Indonesia All-Star 2013 saat berlatih dengan mantan pemain NBA Henry Turner pada Selasa lalu (5/11, Rabu kemarin WIB).

Pemain yang sempat dua musim membela Sacramento Kings itu langsung memberikan materi yang mendasar kepada para pemain DBL All-Star. Para pemain diminta untuk memainkan bola dengan ujung jari-jari tangan sambil berjalan, atau dikenal dengan istilah finger tips drill.

Drill itu terlihat sangat mudah. Meski begitu, Henry memberikan sedikit gangguan, beberapa pemain gagal mempertahankan keseimbangan sehingga bola terjatuh.

Memutar bola di sekitar perut dan melewatkan bola di antara selangkangan menjadi drill sekaligus tantangan selanjutnya. Drill yang juga terlihat mudah tersebut menjadi menantang ketika dikombinasikan dengan berjalan, berlari, dan gangguan-gangguan dari Henry.

Henry baru memperkenankan para pemain untuk men-dribble bola pada drill selanjutnya. Drill dribble kemudian dilanjutkan dengan materi menembak layup. Baik dari sisi kanan maupun kiri, serta melakukan jump shot.

Materi menjadi semakin sulit ketika Henry meminta para pemain untuk melakukan beberapa variasi dribble melewati lawan sebelum melepaskan tembakan. Kombinasi-kombinasi crossover, dribble between the legs, dan hesitation moves sempat membuat para pemain DBL All-Star kehilangan bola sebelum melepaskan tembakan. ''Itu adalah sebuah turnover! Dan lawan diuntungkan karena kesalahanmu!'' ucap Henry mengingatkan beberapa pemain yang kehilangan bola.

''Masalah dari anak-anak zaman sekarang adalah mereka terlalu banyak bermain PlayStation,'' kata Henry. ''Saya bisa mengatakan itu dengan mudah hanya dengan melihat para pemain ini ketika melakukan layup.''

''Ketika bermain dan menyaksikan aksi-aksi LeBron James atau Kevin Durant (bintang NBA, Red) di PlayStation, para pemain muda biasanya ingin langsung bisa mempraktikkan aksi-aksi tersebut di lapangan,'' terang Henry. ''Padahal, jika seorang pemain ingin hebat seperti LeBron James, dia harus melakukan apa yang dilakukan LeBron James justru saat dia latihan.''

Selain memberikan kritik, Henry Turner memuji performa latihan para pemain DBL All-Star. ''Mereka pemain-pemain potensial,'' ungkap Henry. ''Mereka akan mampu mengembangkan potensi yang telah mereka miliki jika mereka serius berlatih. Menghabiskan lebih banyak waktu berlatih jika dibandingkan dengan bermain PlayStation. Saya mengatakan ini tidak hanya kepada pemain DBL All-Star. Saya mengatakan hal yang sama juga kepada anak saya sendiri,'' tuturnya. (*)
Story Provided by Jawa Pos
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


DICORET: Bintang Bimasaki Nikko Steel Malang Bima Rizky Ardiansyah dicoret dari skuad inti tim nasional basket proyeksi SEA Games 2013 Myanmar. (Foto: Farid Fandi/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 06/11/2013
Bima Rizky Dicoret dari Timnas Basket
JAKARTA - Bima Rizky Ardiansyah menjadi pemain terakhir yang dicoret dari skuad inti tim nasional basket proyeksi SEA Games 2013 Myanmar. Bintang Bimasaki Nikko Steel Malang itu mendapatkan kabar tersebut kemarin (5/11).

Dengan pencoretan Bima yang merupakan top scorer Speedy NBL Indonesia 2012-2013, kini timnas sudah berisikan 12 pemain. Itu adalah komposisi final.

Bima biasanya bermain sebagai small forward atau bisa juga shooting guard. Pada musim lalu pemain plontos kelahiran Blitar berusia 23 tahun itu tampil dahsyat dengan torehan rata-rata 16,52 poin per game.

Karena produktivitasnya tinggi, Bima dipanggil masuk seleksi timnas. Pada tahap pencoretan pertama, Bima berhasil lolos. Namun, dalam seleksi akhir Bima harus tersingkir.

Pelatih Kepala Timnas Tjetjep Firmansyah mengatakan, pencoretan Bima disebabkan komposisi tim sudah sangat lengkap. Sebanyak 12 pemain yang masuk roster inti bagi Tjetjep adalah pemain terbaik.

Bima, kata Tjetjep, kalah bersaing dengan shooting guard Xaverius Prawiro (Aspac Jakarta) dan dua pemain muda Satya Wacana Metro LBC Bandung, Respati Ragil Pamungkas serta Kaleb Ramot Gemilang. "Pemilihan ini bagi saya sudah fair. Memang mereka (Ragil dkk) lebih bagus,'' ucap Tjetjep saat dihubungi semalam.

Asisten manajer timnas Ferri Jufry membenarkan alasan Tjetjep. Dalam dua kali tryout ke Filipina, Bima dinilai tidak mampu bersaing dengan pemain lain. "Memang, peta persaingan cukup sengit,'' papar Ferri.

Ferri menambahkan, performa Bima menurun. Itulah yang menjadi alasan Bima terdepak dari skuad Islamic Solidarity Games (ISG) 2013 di Palembang, September lalu. "Waktu itu kondisi Bima drop. Dia kayaknya juga agak kurang fokus,'' ujarnya.

Timnas basket akan berangkat ke Myanmar pada 5 Desember mendatang. Namun, Ferri mengaku belum mendapatkan informasi jadwal pertandingan, termasuk di grup mana Indonesia akan bergabung.

Tjetjep dan Ferri menegaskan bahwa target Indonesia tidak berubah. Yakni, meraih medali perunggu. "Kalau bisa, ya perak. Saat ini fokus kami adalah menjaga kondisi fisik dan mental. Juga akan beruji coba dengan tim-tim NBL,'' tandas Tjetjep. (nur/c2/ang)
Story Provided by Jawa Pos
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


CUACA CERAH: Tim DBL Indonesia All-Star 2013 berpose dengan latar belakang jembatan Golden Gate San Fransisco, AS. (Foto: Hendra Eka/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 06/11/2013
Mencari Toko Apple, Dikerjai ke Toko Buah Apel
Untuk Kali Pertama, DBL Indonesia All-Star Kunjungi California (1)
Setelah tiga tahun berturut-turut mengunjungi Seattle, pada 2013 ini para pemain dan pelatih basket SMA Indonesia pilihan hadir di Negara Bagian California. Sebelum belajar dan bertanding di Sacramento, mereka santai jalan-jalan dulu di San Francisco.

---

Catatan Azrul Ananda Bersama Rosyidan Mainbasket dan Hendra Eka

MELAKUKAN sesuatu yang baru, melangkah ke babak baru, semakin lama semakin sulit dilakukan. Khususnya untuk liga basket SMA terbesar di Indonesia, Developmental Basketball League (DBL).

Ketika dimulai pada 2004 di Surabaya, kompetisi ini ''hanyalah'' turnamen SMA biasa. Kebetulan saja langsung membeludak, diikuti hampir seratus tim.

Tahun demi tahun, DBL (dulu DetEksi Basketball League) terus berkembang. Mulai 2008, liga ini ekspansi ke kota-kota lain. Dan tahun ini, Honda DBL 2013 telah diselenggarakan di 25 kota, di 22 provinsi, mulai Aceh sampai Papua.

Total pesertanya mencapai lebih dari 27 ribu orang, dengan jumlah penonton yang hadir di stadion menembus angka 650 ribu orang.

Sejak 2008 pula, DBL memulai ''tradisi'' mengirimkan tim - berisi pemain-pemain dan pelatih pilihan - ke luar negeri. Dimulai dengan Australia, kemudian berlanjut ke negeri asal basket, Amerika Serikat.

Tujuannya bukan sekadar untuk mengirim tim ke luar negeri. Tim DBL All-Star juga punya misi edukasi, harus mengunjungi sekolah-sekolah atau perusahaan-perusahaan kondang. Selain tentu saja mendapat ilmu basket dari pelatih-pelatih lokal, dan bertanding melawan tim-tim muda di luar negeri.

Proses seleksi untuk bergabung ke tim itu -DBL Indonesia All-Star- juga semakin sulit dan kompetitif. Tahun ini, dari puluhan ribu peserta, penyelenggara dari PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia memilih 247 anak untuk ikut DBL Camp di Surabaya.

Selama hampir seminggu, mereka dilatih dan diseleksi tim pelatih yang terdiri atas pemain atau mantan pemain NBA, plus pelatih-pelatih top dari Australia dan Amerika.

Dari jumlah itu, kemudian dipilih 14 putra dan 14 putri untuk masuk kandidat DBL Indonesia All-Star. Plus empat pelatih yang diseleksi dari 50 kandidat saat DBL Camp.

Setelah menjalani seleksi akhir, dan ujian laga melawan Tim Gold Coast Junior Allstars di Sritex Arena, Solo, barulah 12 pemain putra dan 12 pemain putri dipilih. Mereka itulah yang berhak ikut program ke Amerika.

Minggu malam lalu (3/11), rombongan tiba di Bandara Internasional San Francisco. Total berjumlah 48 orang. Selain barisan pemain dan pelatih, ikut pula sejumlah ofisial, plus perwakilan media dan partner penyelenggara (dari Honda dan Telkomsel).

---

Rombongan DBL Indonesia All-Star 2013 ini merupakan rombongan pertama yang mengikuti rangkaian program di Negara Bagian California. Sejak 2010 hingga 2012, tim yang dikirim ke Amerika selalu rutin mengunjungi Seattle, di Negara Bagian Washington.

Ini bukan berarti DBL All-Star tidak akan kembali lagi ke Seattle. Berkat Seattle-Surabaya Sister City Association (SSSCA), PT DBL Indonesia punya partner yang luar biasa di kota asal Boeing, Starbucks, dan Microsoft tersebut.

Nanti DBL All-Star diharapkan bisa mengunjungi sebanyak mungkin kota di Amerika, mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda untuk dibagi ke Indonesia. Bisa jadi tahun ini ke California, tahun depan kembali ke Seattle, lalu ke kota lain, dan begitu seterusnya.

Yang jelas, untuk membuat program seperti ini, tidaklah mudah. Bukan sekadar masalah finansial, melainkan juga harus adanya ''teman'' penyelenggara yang membantu persiapan serta pelaksanaan selama di Negeri Paman Sam.

Untungnya, dalam sepuluh tahun terakhir, DBL punya banyak ''alumnus'' yang kini kuliah di Amerika. Beruntung pula, DBL punya banyak ''teman'' berkat berbagai kerja sama internasional yang selama ini dibangun.

Untuk kunjungan ke California ini, yang banyak membantu justru teman-teman dari klub NBA Sacramento Kings. Khususnya Scott Freshour, salah satu manager entertainment di klub tersebut. Dua tahun lalu, dia datang ke Indonesia untuk menonton langsung (dan berpartisipasi sebagai juri dance team) DBL di Surabaya.

Yang juga banyak membantu adalah Vincent Ngai, mantan manajer tim SMA Gloria Surabaya yang kini kuliah di California.

Bersama kru dari PT DBL Indonesia, dalam beberapa bulan terakhir, mereka menyiapkan program sebaik mungkin. Mulai jalan-jalan di San Francisco sampai kegiatan inti di ibu kota California, Sacramento. Minggu ini tinggal eksekusi bersama.

Jaringan ''alumnus'' dan ''teman'' itu tentu tidak hanya terbatas di Seattle dan California. Juga tidak hanya di Amerika. Sulit membayangkan, seperti apa perjalanan-perjalanan DBL All-Star pada tahun-tahun mendatang!

Tahun ini saja sebenarnya sudah ada sejarah baru yang akan dicatat DBL Indonesia All-Star 2013. Pada Jumat, 8 November nanti, mereka menjadi tim basket Indonesia pertama yang berlaga di lapangan basket NBA. Hari itu, mereka mendapat kesempatan bertanding di Sleep Train Arena, kandang Sacramento Kings!

---

Bagi saya (Azrul Ananda) sebagai commissioner DBL, kunjungan ke Sacramento memberikan kesan tersendiri. Dulu, hingga 1999, saya bertahun-tahun tinggal di Sacramento, menyelesaikan kuliah di California State University Sacramento (Sacramento State).

Bahwa tim DBL All-Star akan ke Sacramento, seolah meneruskan paralel antara perjalanan sekolah saya dulu dengan perkembangan DBL All-Star.

Dulu, setelah lulus SMP, dan lolos seleksi pertukaran pelajar ke Amerika, Seattle adalah kota pertama yang saya kunjungi. Di sana, saya bersama puluhan exchange student lain dari Indonesia dan Jepang mengikuti camp untuk persiapan menghadapi hidup di keluarga Amerika.

Seattle, pada 2010, menjadi kota pertama yang dikunjungi DBL All-Star di Amerika.

Setelah SMA di Kansas, saya kuliah di Sacramento. Dan kini, DBL All-Star ikut saya ke Sacramento!

Tentu saja, ini memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi perjalanan masa sekolah saya dulu!

Mengunjungi kampus saya, melihat langsung suasana kuliah di Amerika. Menonton pertandingan Sacramento Kings, tim favorit saya. Bertanding di Sleep Train Arena (dulu Arco Arena), tempat saya diwisuda pada Desember 1999.

Tidak ketinggalan, makan di restoran-restoran favorit saya. Termasuk, restoran seafood Yuet Lee di San Francisco (cumi goreng terenak di dunia!) pada hari pertama kegiatan Senin lalu (4/11). Nanti DBL All-Star juga saya ajak makan di Dining Commons, kafetaria kampus tempat saya dulu bekerja jadi pelayan dan pencuci piring saat kuliah.

Bagi DBL All-Star, ini bakal jadi pengalaman baru. Bagi commissioner liga, ini perjalanan nostalgia...

---

Senin pagi (4/11) menandai dimulainya segala aktivitas DBL All-Star selama di Amerika. Walau malam sebelumnya baru mendarat dan masih berkutat melawan jet lag, Senin pagi itu pukul 06.30 semua sudah harus siap di lobi hotel.

Agenda hari itu dijadwalkan santai. Jadi, semua diharapkan sudah selesai melawan jet lag sesegera mungkin.

Pagi itu, jadwal pertama adalah mengunjungi Golden Gate Bridge. Bus membawa rombongan melintasi jembatan legendaris sepanjang 2,7 km tersebut. Lalu, berhenti di Vista Point, di sisi Marin County, tempat turis berfoto dengan latar belakang jembatan dan Kota San Francisco.

Mengingat ini sudah bulan November, memasuki musim dingin, sempat dikhawatirkan acara foto-foto tersebut bakal kurang asyik. Kabut bisa saja menyelimuti jembatan.

Untungnya, pagi itu langit cerah. Matahari bersinar. Foto yang direncanakan pun jadi kenyataan: Foto tim dengan latar belakang Golden Gate!

Anak-anak DBL All-Star juga sempat berjalan di atas jembatan yang selesai dibangun pada 1937 tersebut. Walau tidak sampai menyeberang, itu sudah memberi pengalaman yang tak terlupakan.

''Beberapa kali melihat jembatan ini di film-film, eh tahu-tahu sekarang saya bisa foto-foto di sini,'' ungkap Putriana Dwi Fadzriyah, pemain dari SMAN 9 Bandung, yang beberapa kali meminta tolong rekannya untuk mengambil foto dirinya dengan latar belakang Golden Gate.

Dari Golden Gate, rombongan menuju Pier 39, kawasan wisata kondang lain di San Francisco. Dari sana, mereka naik feri, mengelilingi penjara superkondang Alcatraz.

Walau tidak menginjakkan kaki di Pulau Alcatraz, rombongan DBL All-Star berkesempatan melihat langsung penjara menyeramkan itu dari jarak yang sangat dekat. Feri yang mengangkut DBL All-Star mengelilingi bahkan sempat mematikan mesin di bagian depan penjara.

''Gak nyangka aja bisa sedekat ini dengan penjara paling seram sedunia,'' ujar Dara Tahirah Sudrajat, pemain asal SMAN 2 Bandung. ''Tetapi, ada untungnya juga kita tidak mendarat di Alcatraz. Nanti malah terbayang-bayang arwah bekas penghuninya.''

Selepas mengitari Alcatraz, rombongan DBL All-Star disambut riuh penunggu setia Pier 39. Mereka adalah sekelompok singa laut (sea lion atau seal) yang berjemur di sisi dermaga dan terus menyalak seolah bahagia mendapat kunjungan rombongan DBL All - Star.

''Petualangan'' di sekitar Pier 39 berlanjut setelah makan siang. Selain merupakan dermaga untuk menuju Alcatraz, Pier 39 adalah lokasi berbelanja dan berburu oleh-oleh bagus. Seluruh anggota rombongan DBL All-Star langsung melepaskan dolar di lokasi itu.

Masih dalam rangka mengumpulkan oleh-oleh, kegiatan belanja di dermaga Pier 39 berlanjut ke Union Square, semacam alun-alun Kota San Francisco. Plaza itu dikelilingi mal dan toko-toko merek terkenal. ''Saya berburu handphone merek Apple keluaran terbaru,'' ujar Jap Ricky Lesmana, asisten kepala pelatih putra DBL All-Star, dari SMA Bukit Sion Jakarta. ''Sialnya, setelah bertanya kepada salah seorang penduduk kota, saya tadi sempat terburu-buru berlari menuju toko Apple. Ternyata, itu adalah toko buah apel. Saya dikerjai salah seorang penduduk sini!'' lanjutnya seru.

Hari santai itu berakhir dengan makan malam di Yuet Lee. Terletak di China Town, restoran seafood yang populer bagi anak-anak Indonesia di sana itu punya julukan ''Warung Ijo''. Maklum, warnanya memang hijau!

Dasar tim basket, khususnya yang putra, setiap makanan yang disajikan langsung ludes setiap kali diantarkan ke meja. ''Kami butuh pasokan tenaga setelah berkeliling seharian,'' ujar Marvanico Tjokrosoeharto, pemain asal SMA Kolese St Yusup, Malang. ''Kami butuh energi juga untuk perjalanan selanjutnya,'' imbuhnya.

Senin malam itu, setelah dinner, rombongan langsung menuju Sacramento. Program-program yang ''sebenarnya'' telah menanti hingga tiba waktunya pulang, 10 November nanti... (bersambung)
Story Provided by Jawa Pos
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


THE ROCK: Pemain dan pelatih beserta kru DBL All-Star 2013 berfoto bersama di atas kapal Blue and Gold Fleet dengan latar belakang penjara Alcatraz yang dikenal dengan sebutan The Rock. (Foto: Hendra Eka/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 06/11/2013
Hari Jalan-Jalan sebelum Hari-Hari Serius
Rombongan Developmental Basketball League (DBL) All-Star 2013 mengawali kunjungan di California dengan hari santai di San Francisco.

Senin lalu (4/11) tempat-tempat wisata utama dikunjungi. Mulai Jembatan Golden Gate, Pier 39, serta naik feri keliling Alcatraz, hingga berbelanja di kawasan Union Square.

Seharusnya sudah memasuki musim dingin, cuaca cerah menyambut kedatangan DBL All-Star. Matahari bersinar terang, membuat suhu terasa hangat.

Kabut tebal yang sering menyelimuti Golden Gate pun ikut bersimpati. Senin pagi itu tidak ada sedikit pun kabut, memberikan kesempatan kepada tim untuk berfoto bersama dengan latar belakang jembatan yang sempurna.

Kini tinggal hari-hari lebih sibuk menanti di Sacramento, ibu kota Negara Bagian California yang letaknya sekitar 120 km dari San Francisco. Hari-hari sibuk yang diharapkan bisa memberikan banyak pengalaman baru untuk dibagi ke teman-teman di Indonesia. (*)
Story Provided by Jawa Pos
Dikarang oleh : Indahwd pas Jumat, November 08, 2013 0 komentar


SUDAH PADU: Bintang anyar CLS Knights Surabaya Mario Wuysang (dua dari kanan) saat berlatih bersama rekan-rekannya di GOR CLS ( 31/10). (Sugeng Deas/Jawa Pos)
nblindonesia.com - 08/11/2013
Main Cepat Jadi Keunggulan
CLS Hadapi Jadwal Neraka di Malang
CLS Knights Surabaya menghadapi jadwal neraka pada seri pembuka Speedy NBL Indonesia 2013-2013 di Malang 16-24 November mendatang. CLS dituntut untuk segera menemukan formula terbaik agar bisa menyapu bersih semua kemenangan.

Berlaga di GOR Bimasakti Malang, CLS akan menjalani enam pertandingan. Yakni, melawan tiga tim papan atas; Garuda Kukar Bandung, Pelita Jaya Energi-MP Jakarta, dan Satria Muda Britama Jakarta.

Tim asuhan Kim Dong-won itu juga akan menghadapi tiga tim kuda hitam Stadium Jakarta, Hangtuah Sumsel IM, dan Satya Wacana Metro LBC Bandung. "Memang berat. Namun, kalau kami percaya diri, nggak ada yang nggak mungkin. Kami bisa saja mengalahkan tim-tim itu," tekad kapten CLS Dwi Haryoko.

Kemarin (7/11) CLS beruji coba melawan tetangganya, Pacific Caesar Surabaya. CLS menang relatif mudah dengan margin cukup lebar, 27 poin (85-58).

Pola yang diterapkan Mr Kim sama dengan saat menjadi runner-up preseason tournament September lalu. Basis dasarnya tetap, yakni memakai dua pengatur serangan alias double point guard.

Nah, kesulitan muncul karena pelatih asal Korea Selatan tersebut masih belum menemukan formula yang paten. Sepekan sebelum bergulirnya Seri I, Mr Kim masih galau apakah memasangkan point guard utama Dimaz Muharri dengan bintang baru Mario Wuysang ataukah dengan rookie Arif Hidayat.

Roe -panggilan Mario Wuysang- adalah pemain baru yang harus beradaptasi dengan pola permainan CLS. Wuysang harus meraba pattern CLS, terutama dalam defense. Mengharapkan Wuysang untuk cepat tune-in tentu saja sulit.

Di sisi lain, Arif memang paham pola CLS. Namun, sebagai rookie, pengalaman dan mentalitas point guard kelahiran Jember itu masih kalah dengan Wuysang.

"Kami memang masih tetap memakai double point guard. Dengan Mario harapannya memang dia bisa membantu (saya)," ucap Dimaz. "Mario adalah pemain profesional dan menjaga baik kondisinya. Dia juga mencoba masuk (adaptasi) dan bertanya soal pola," imbuh top assist dan top steal di preseason lalu tersebut.

Dimaz menegaskan, CLS harus bermain lebih cepat untuk bisa membekap lawan-lawannya. Sebab, kecepatan adalah keunggulan komparatif CLS bila dibandingkan dengan tim lain di NBL Indonesia. Bisa dikatakan CLS adalah tim tercepat di negeri ini.

Playmaker kelahiran Binjai, Sumatera Utara, itu menambahkan, tryout di Korea Selatan September lalu memang membuat matanya terbuka. Bahwa kecepatan bisa membuat tim sangat berbahaya. "Namun, di Korea akurasi tembakannya bagus. Kalau sudah dapat (posisi), kayaknya 90 persen masuk," ucap Dimaz.

CLS memang harus memanfaatkan kecepatan untuk menang. Memiliki salah satu barisan backcourt terbaik di Indonesia, CLS akan kesulitan jika bermain lambat melawan tim tangguh di paint area macam Pelita Jaya dan Satria Muda.

Hari ini, CLS akan melaksanakan pertandingan uji coba melawan Bimasakti Nikko Steel Malang di GOR Bimasakti. Uji coba tersebut menjadi comeback small forward Bimasakti Bima Rizky Ardiansyah setelah dicoret dari timnas basket putra untuk SEA Games 2013.

Dalam Angka

13
Dimaz Muharri adalah pemegang rekor assist terbanyak dalam satu pertandingan, yakni 13. Jumlah itu sama dengan yang pernah dibukukan Wendha Wijaya (Garuda Kukar Bandung).

504
Hingga kini, Dimaz merupakan satu-satunya pemain di Speedy NBL Indonesia yang berhasil menembus 500 lebih assist (504).

1.024
Rachmad Febri Utomo menjadi satu-satunya pemain CLS yang mencetak lebih dari 1.000 poin di NBL Indonesia (1.024 poin). (nur/c4/ham)
Story Provided by Jawa Pos
 

HWD☮ Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos